Saturday, June 30, 2018

Fakta atau Opini? #BalasDi18Spesial #BalasDi18Spesial2018

Menurut gua, salah satu bit lo yang bawa sebuah gagasan penting untuk indonesia di zaman sekarang adalah bit lo tentang ngebedain sebuah opini sama fakta di show Mesakke Bangsaku.

Lo banyak banget ngebicarain tentang persatuan, tentang pendidikan, yang akhirnya ngebuat lo ngingetin tentang pentingnya pemahaman politik, penegakkan hukum, dan pentingnya pendidikan yang fokus sama manusianya. Tapi mau gimana juga, pengolahan informasi menjadi sangat penting dan pegang peranan penting.

Se'concern-concern'nya kita sama persatuan, sama pendidikan. Selama masih ga bisa bedain  mana fakta mana opini, langkah yang kita ambil bakal cendrung salah. Kita yang katanya menginginkan persatuan akhirnya terpecah lagi karena kita nganggep suatu opini seseorang jadi sebuah fakta yang kita pegang teguh.

Sebagai contoh, ada dua orang yang suka kopi. Orang pertama suka kopi dan akhirnya belajar banyak tentang kopi. Dia belajar tentang jenis-jenis kopi, cara pengolahan kopi, cara penyajian kopi, sampai cara menikmati kopinya. Sehingga dia berfikir bahwa faktanya, menikmati kopi itu harus seperti itu. Orang yang kedua, dia suka nongkrong di warkop. Ngobrol-ngobrol sama tetangganya, ngebahas banyak hal sambil minum bergelas-gelas kopi sachet di warkop. Sehingga dia berfikir bahwa faktanya, minum kopi itu bisa di mana aja, yang penting murah dan bisa ngeluarin banyak isi pikirannya saat ngopi. Tapi karena mereka menganggap masing-masing dari opini mereka adalah sebuah fakta, ujung-ujungnya mereka jadi ribut satu sama lainnya karena permasalahan preferensi minum kopi, yang akhirnya ngelupain sebuah fakta yang sebenernya indah, mereka sama-sama menyukai kopi.

Hari ini, setiap kita pasti pengen benar-benar ngerasain yang namanya sebuah persatuan. Dan di tahun politik sekarang ini, ngebedain opini dan fakta jadi sebuah hal yang penting. Kenapa? Pengambilan keputusan kita untuk berada di sisi yang mana akan jadi bermasalah seandainya pemahaman kita akan sebuah opini atau fakta masih salah. Kita saling gontok-gontokan cuma karena perbedaan pilihan, saling nyerang sesama cuma berdasarkan sebuah opini. dimana pada akhirnya kita jadi lupa sebuah fakta yang sebenernya indah, kita sama-sama mencintai sebuah persatuan.

Thursday, January 25, 2018

Am I Right?

Betapa masifnya informasi yang saya dapat beberapa tahun ke belakang, membuat saya kesulitan dalam mengambil sebuah sikap yang tegas untuk saat ini. Antara satu informasi dengan yang lainnya tak jarang hanya sekedar bersinggungan atau bahkan berlawanan dalam mengambil suatu posisi. Jarak yang timbul akhirnya membuat saya bertanya-tanya, di antara informasi tersebut, sisi mana yang benar? Ketakutan untuk mengambil sebuah keputusan yang salah akhirnya membawa saya berada di titik yang bahkan tak bersentuhan dengan garis yang telah tersedia.

Kebenaran memang bias. Kadang baik hanya disimpulkan oleh sebagian kalangan, di saat yang bersamaan pihak lain menganggapnya sebagai sebuah pelanggaran pemikiran. Perspektif memainkan peranan penting terhadap nilai-nilai yang diambil oleh seseorang, dari mana meninjau suatu permasalahan adalah kuncinya.

Lalu bagaimana? Saya harus melakukan apa? Beberapa hari yang lalu, sekelibat saya melihat sebuah postingan yang menarik perhatian saya. Sebuah kawan yang sudah tak bertemu dalam waktu yang cukup lama mengunduh sebuah gambar pada akun instagramnya, gambar berisi rangkaian kata kata yang menggugah sanubari saya:

'Belajar adalah perjalanan mencari kebenaran'

Menarik. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin banyak obrolan yang kita dengar, dan semakin banyak langkah yang telah kita lalui membuat kita memiliki asumsi akan sebuah isu, yang akhirnya membentuk sebuah persepsi akan nilai suatu kebenaran. Padahal, kebenaran yang telah kita asumsikan belumlah mencapai sebuah titik absolut suatu kebenaran, karena seperti yang telah dsampaikan sebelumnya, nilai kebenaran akan bergantung kepada letak kaki kita berdiri. 

Postingan tersebut akhirnya membukakan sebuah sudut pandang baru terhdap saya. Menghasilkan sebuah kesimpulan (yang mungkin bersifat sementara), bahwa kebenaran merupakan sebuah proses, bukan hasil akhir. Sehingga dalam pencariannya, acap kali kita bisa berubah pandangan. Namun satu yang pasti, selama kita terus belajar, perjalanan menuju sebuah kebenaran akan semakin dekat. 

Maka bukan hal yang mengherankan, ketika kita mendengar firman tuhan yang berkata bahwa Ia akan meninggikan derajat orang yang berilmu. Karena hanya dengan ilmu (dan juga iman), kebenaran yang hakiki baru akan kita dapatkan. Wallahu a'lam bishawab.

Sunday, December 24, 2017

Kemana

Roda bergulat dengan aspal jalan
Bergesekan menciptakan arah putaran
Kemudi berkelak-kelok, rasanya tak ada yang bisa mengengkang
Meski sebenarnya, ialah yang sedang dipermainkan

Kereta terus melaju, mengingat kenangan kita dahulu
Entah kemana, karena nyatanya dirimu sudah tak bersamaku

Aku terus bergerak

Naluri membuatku berpindah
Kamu yang tentukan arah

Saturday, June 24, 2017

Peran

Kenangan menyakitkan
Tawa kebahagiaan
Peluh yang tertuang
Atau satir yang mencekam

Diantara sajak-sajak malam
Siapa dirimu? 

Sunday, June 11, 2017

Sore itu

Jika tetes itu turun, basah bukan hanya menggenangi permukaan ruang itu
Tetapi di dalamnya, bergejolak lebih besar dari seharusnya
Ratapan menjadi penuh arti
Bayangan akan jejak manusia yang bergelut menuju kebahagian semu
Semakin terpejam, semakin nyata
Dan yang kulihat hanya satu

Dirimu

Tuesday, March 21, 2017

Nikmati Saja, Kita memang Menyukainya

Dunia sepakbola sedang dibuat tak percaya. Kejadian-kejadian di luar nalar manusia menjadi penyebabnya. Kita disajikan fenomena yang luar biasa dalam beberapa hari belakangan ini, baik di level nasional hingga internasional, dari pencapaian individu sampai sebuah lampauan misi mustahil sebuah kesebelasan eropa.

Di sepakbola dalam negeri, seorang pria mencetak lima buah gol dalam sebauh pertandingan. Sebuah torehan yang menakjubkan, apalagi bila dibumbui dengan kalimat ‘di semi final dan membawa timnya lolos ke final’. Yang jika kita gabungkan akan menjadi, seorang pria mencetak lima buah gol di semi final dan membawa timnya lolos ke final’. Luar biasa bukan? Yang lebih menariknya lagi, premis di atas bukanlah sebuah punchline, namun bisa kita buat ‘hanya’ sekedar set up list untuk premis berikutnya.

Inilah fakta berikutnya:
1.       Sang pencetak gol ternyata berusia 40 tahun. Usia yang sudah tidak muda lagi bagi seorang pemain sepakbola.
2.       Sang pemain mencetak keseluruhan gol bagi kesebelasannya di pertandingan tersebut.
3.       Sang pencetak gol adalah seorang Warga Negara Indonesia yang dinaturalisasi.
4.       Sang pencetak gol adalah seorang mualaf(?)

Untuk premis berikutnya untuk sebuah punch line, Anda bisa memilih mana yang mau dimasukkan, atau kombinasikan, tergantung dengan tujuan dan keyakinan Anda masing-masing.
Beralih ke sebuah kompetisi terbaik yang bisa dibuat oleh seorang umat manusia, UEFA Champions League, kesebelasan raksasa asal Spanyol membuat dunia berdecak kagum. Bagaimana tidak, setelah mengalami kekalahan memalukan di Leg-1 perdelapan final UEFA Champions League di kandang lawan, Messi dkk berhasil melakukan comeback sensasional di kandangnya sendiri, Camp Nou. Hasil akhir 4-0 di Paris dibalas dengan enam gol yang berjaring ke gawang PSG yang hanya bisa dibalas oleh sebiji gol lewat pemain asal Urugay, Edinson Cavani di menit ke 62.

Sampai titik ini saja para penikmat sepakbola sudah merasa gila. (Penikmat sepakbola: seseorang yang berkata menggilai sepakbola, namun faktanya hanya mengetahui semuanya dari situs berita). Maka bisa dibayangkan ‘gilanya’ mereka yang menonton pertandingan secara langsung, baik yang datang langsung ke stadion maupun mereka yang menikmati di layar televisi.

Bagaimana tidak, drama disajikan sepanjang laga pada pertandingan ini, Barcelona yang unggul di menit awal terus melancarkan serangan bertubi-tubi ke area pertahanan PSG dan berhasil mengemas dua gol sebelum jeda, lalu mencetak sebuah gol untuk memperlebar jarak di awal babak ke dua. Seperti tertulis di atas, PSG sempat membuat asa Barcelona padam dengan sebuah gol krusial lewat sepakan kaki kanan Edinson Cavani yang menakjubkan dan bertahan sampai menit ke 88. Sampai akhirnya harapan untuk menaklukkan Barcelona pupus setelah dua gol Neymar dari bola mati ditutup dengan manis oleh pemain pengganti, Sergi Roberto di penghujung menit. 3 gol dalam waktu 7 menit. Luar biasa.

Lalu apa hubungan antara cerita ‘seorang pria mencetak lima buah gol di semi final dan membawa timnya lolos ke final’ dengan kemenangan sensasional Barcelona? Kontroversi.
Jika menilik dan memperhatikan lebih lanjut, di pertandingan Arema melawan Semen Padang tersebut, Cristian Gonzales (seorang pria yang mencetak lima buah gol di semi final dan membawa timnya lolos ke final) telah lebih dulu berada di posisi offside saat menerima bola sebelum akhirnya mencetak gol pertama dan ke empatnya di pertandingan tersebut.





Gol pertama El loco


Gol ke empat El loco

Namun bagaimanapun pluit pertandingan telah ditiupkan dan Cristian ‘EL loco’ Gerard Alfaro Gonzales mencetak sebuah prestasi fenomenal yang akan dikenang oleh semua pencinta sepak bola Indonesia.

Di Katalunya, salah satu kemenangan yang masuk dalam comeback terbaik sepanjang sejarah babak knock out UEFA Champions League ini juga tak lepas dari kontroversi. Mulai dari aksi Luis Suarez yang dianggap diving sehingga memiliki andil dalam gol pinalti Neymar, sampai tackling Mascherano atas Di Maria di menit ke 85 yang ‘digratiskan’ oleh wasit Deniz Aytekin asal Jerman. Meski lewat pengakuannya dalam sebuah wawancara yang dilansir oleh ESPN di akhir pertandingan Mascherano mengatakan, ‘Kami bermain di batas kemampuan kami. Saya mencoba melakukan sliding tekel. Saya mengganjalnya dan itu sudah jelas, saya tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Saya melakukan segalanya agar mereka tidak mencetak gol. Untungnya wasit tidak memberikan pinalti.’

Gol berbau offside Cristian Gonzales, keputusan-keputusan kontroversi wasit di pertandingan Barcelona vs PSV nyatanya tidak mengubah kekaguman para pencinta sepakbola di seluruh dunia akan fenomena ke duanya. Karena bagi kita, seorang berusia 40 tahun mencetak lima gol di sebuah pertandingan dimana itu merupakan keseluruhan gol timnya yang membawa timnya tersebut melaju ke final merupakan sebuah keajaiban. Karena bagi kita, membalas kekalahan 4-0 di kandang lawan melalui drama menegangkan 6-1 di kandang sendiri pada sebuah kejuaraan bergengsi di Eropa adalah sebuah keajaiban.


Segala bentuk kontroversi memang ada untuk menambah rasa dalam racikannya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima dan menikmatinya. Bukan begitu? Oh tuhan, terima kasih atas sepakbola.

15. Wahyu Repi

Kalau ada manusia di batch ini yang nyebelin setelah Simon, orang itu adalah Wahyu.
Eh ga deng, urutan yang paling nyebelin di batch ini itu gini:
11.  Simon
22.   Simon
33.  Simon
44.  Yang lainnya hahahaha

Kalau sama Wahyu ini gimana ya, kita ini udah kenal bahkan dari seleksi masuk Maybank tahap satu di Bandung. Psikotes bareng, tes bicara depan umum bareng, dan akhirnya tukeran kontak sama Dia. Tahapan berikutnya wawancara juga bareng sampai akhirnya ke Jakarta bareng dan se kamar bareng. Males banget kan hahaha

Jadi salah satu manusia dengan interaksi terbanyak di batch ini ya Dia, Wahyu. Umurnya setahun di bawah Saya, tapi kaya ngerasa jauh lebih tua dari Dia. Karena manusia ini selalu mencoba mendengar lebih banyak dan belajar lebih banyak.

Banyak banget cerita yang Saya sharing sama Dia. Obrolan panjang pertama tentunya tentang Maybank dan prediksi pekerjaan di sana waktu di travel dari Bandung ke Jakarta. Udah itu ngobrolin tentang Hobi travelling Saya waktu lagi sok-sokan mau jalan kaki dari Hotel ke Pasaraya Manggarai. Udah itu cerita banyak juga tentang kegilaan Saya sama sepakbola dan tentunya Persib Bandung. Udah itu juga cerita tentang rencana studi Saya yang kandas karena kerjaan. Sampai cerita banyak tentang beberapa pekerjaan yang juga harus pupus karena masuk MAybank.
Wahyu juga yang jadi saksi Saya selalu belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh tiada henti tanpa kenal lelah dan selalu bersemangat setiap mau ujian. Dia juga menjadi saksi bahwa Saya selalu mengisi waktu di malam hari dengan sangat bermanfaat dan berfaedah. Dia juga…. Apa lagi ya bingung mau muji diri sendiri tuh.

Alhamdulillah narsisnya terfasilitasi ditulisan ini hahahaha

Wahyu asalnya dari Manado, nama Repi juga Dia dapet dari Allah yarham ayahnya yang orang sana. Dia lulusan dari universitas Samratulangi Manado dengan predikat yang sangat baik. Idola remaja Manado yang memiliki dayang-dayang di setiap penjuru negeri. Sangat aktif berorganisasi sehingga punya banyak sekali kenalan dari berbagai banyak latar belakang. Cita-citanya menjadi presiden tertuangkan dalam cara Dia memperkenalkan diri sebagai Wahyu Presiden, memang kalau punya mimpi harus dishare, biar banyak yang doain.

Orang ini juga suka nulis, dia punya blog dengan viewer yang sangat banyak, jauh banget kalau dibandingkan Saya ini. Blog Say amah yang baca itu-itu doing, keliatan di stat bloggernya hahaha. Nah Si wahyu mah yang baca blognya dari seluruh penjuru negeri. Dari hobinya nulis ini juga Dia udah bikin satu buku yang rilis akhir tahun lalu kalau ga salah, judulnya apa gatau hahahaha. Ini sebuah tamparan keras ke diri Saya sebenernya. Setelah sempat memiliki niat bikin novel da nada sebuah tawaran serius, akhirnya ga Saya selesaikan Cuma karena alas an takut ga laku, takut orang ga suka.

Wahyu ini ngajarin Saya, buat ga usah mikir gituan. Yang namanya berkarya mah buat aja dulu, karena ga ada sesuatu di dunia ini yang jadi langsung bagus. Nanti seiring berjalannya waktu, kita perbaiki semuanya secara bertahap. Kenapa Saya tau pikiran kalau Wahyu mikir gapapa berkarya dulu walau masih belum sempurna? Karena Saya tau tulisan Dia sebenernya ga bagus-bagus amat. Masih bagusan Saya kemana-manalah hahahahahahhahanjing sampah banget aing.

Berapi-api. Mungkin Dia juga lebih banyak diem, tapi ga ada yang nyangka semangat yang Dia punya bener-bener keluar pas Dia ngomong. Sebuah contoh yang baik tentang efektifitas.

Nah, dari segala banyak kelebihan Dia ini, mulai dari lulusan universitas ternama dengan IPK yang sangat tinggi, punya blog dengan viewers yang banyak, aktif organisasi disana sini, punya kemampuan efektifitas yang tinggi dalam berbicara di depan orang, Wahyu tetep lebih banyak mendengar bahkan dari orang senyampah saya yang IPK nya ga sampe 3, yang ga punya buku, dan blog dengan viewer yang banyak. Dia ngajarin kita, kalau memang kita harus banyak mendengar dari pada bicara. Kita harus lebih banyak belajar dari pada menyampaikan. Sesuatu elemen penting yang banyak hilang dimasyarakat kita saat ini. Saya sih cuma bisa berharap semoga apa yang Saya sharing sama Dia bisa banyak berguna buat hidup Dia dan Saya juga bisa banyak belajar dari kesederhanaan dan kerendah hatian Dia.

Kalau dipikir-pikir dia ini antitetis seorang Faqih Ahmad Muzakky. Namun akhirnya kami dipersatukan lebih awal dan dipertemukan lebih lama, bahkan sampai saat ini yang constantly masih ngontak ya orang ini. Perbedaan yang jauh banget dari kami jugalah yang bikin kami lebih akrab dan dekat karena saling mengisi kekosongan pertemanan ini. Dan karena suka ceng-cengin puisi saya, Let me give some for this prick.

Kalau ruang ini hanya ada aku, pasti menyenangkan
Rembulanpun akan cemburu oleh aku dan kuasaku
Namun bila di ruangan ini ada aku dan kamu, semuanya biasa saja
Tak akan ada kecemburuan dari sang rembulan
Karena kau membuatnya tenang, dengan segala kesederhanaanmu
Rembulan mencintai kesederhanaan

Tulisan ini menjadi penutup tentang MDP Batch berapa saya lupa dan tentunya tulisan paling panjang. Karena memang banyak sekali yang bisa diceritakan dari sebuah kesederhanaan. Terima kasih kawan, semoga segala impianmu tercapai